Dua kabar hari ini datang dari dua kutub pasar AI, tetapi mengarah ke satu perubahan yang sama: kompetisi bergeser dari “model paling kuat” menjadi “siapa yang jadi pintu masuk default dan bisa menuntaskan tugas nyata.” Alibaba mengubah Qwen dari chatbot menjadi asisten hidup yang bisa bertindak lewat integrasi ekosistem. Microsoft, di sisi lain, memperkuat ketahanan platform dengan pendekatan multi-model (multi-engine).

Ulasan:
Mencapai 100 juta MAU hanya dalam dua bulan terutama membuktikan kekuatan distribusi dan pengalihan trafik Alibaba. Ini bukan sekadar “produk bagus,” tetapi kemampuan ekosistem untuk mendorong adopsi dalam waktu sangat singkat.
Lebih penting lagi, integrasi ke Taobao/Alipay/Flash sale/Fliggy/Amap membuat Qwen naik kelas: dari sekadar antarmuka percakapan menjadi asisten hidup yang punya “daya aksi”—bisa membantu melakukan transaksi, membeli barang, hingga memesan perjalanan.
Menariknya, Alibaba memilih membuka pengujian ke semua pengguna, bukan hanya gray release kecil atau pengguna berbayar. Itu mengindikasikan strategi yang agresif: mempercepat iterasi lewat permintaan nyata, mengunci kebiasaan pengguna lebih awal, dan merebut mindshare.
Di pasar Tiongkok yang kompetitif (Doubao, DeepSeek, Ernie, dll.), Alibaba tetap berada di papan atas. Batas atasnya bukan pada fitur yang paling heboh, melainkan pada tingkat keberhasilan menyelesaikan tugas, mekanisme fallback saat gagal, dan tingkat kepercayaan pengguna untuk menyerahkan langkah “pesan—bayar—jalan” pada agen AI.
Ulasan:
Dalam kompetisi AI tingkat platform, Microsoft tidak mungkin mengikat Office, Windows, GitHub, Azure, dan Security pada satu pemasok atau satu roadmap. Bekerja dengan banyak penyedia model pada dasarnya membangun arsitektur “multi-engine” sekaligus memperkuat daya tawar dan redundansi teknis.
Dengan meningkatnya kemandirian OpenAI, ketidakjelasan jalur komersialisasi, dan potensi konflik kepentingan, Microsoft butuh opsi dan bargaining chip. Strategi yang paling masuk akal bukan “ganti mesin total,” tetapi memilih model terbaik per skenario: Copilot untuk beberapa kemampuan pakai A, untuk kemampuan lain pakai B. Azure juga bisa memaketkan multi-model sebagai komoditas standar untuk enterprise, sehingga peluang pendapatan bergeser dari “menjual model” menjadi “menjual platform yang mengorkestrasi model.”
Sebelum AGI benar-benar datang, pemenangnya bisa jadi bukan yang punya satu model paling kuat, melainkan platform yang paling piawai mengintegrasikan, menjadwalkan, dan memonetisasi kemampuan AI yang beragam.
Penutup:
Alibaba sedang membangun AI sebagai pintu masuk “bisa melakukan” (bukan hanya ngobrol) di layanan sehari-hari. Microsoft sedang membangun AI sebagai lapisan platform yang modular dan bisa diganti sesuai kebutuhan. Menurutmu, mana yang lebih cepat membangun moat jangka panjang: super-entry point berbasis ekosistem, atau orkestrasi multi-engine di level platform?
Bacaan lanjutan (72 jam terakhir):